Monday, August 1, 2016

6 Jam Keliling Kota Padang



Kota Padang bukan saja sekedar wilayah administratif dari provinsi Sumatra Barat, namun menyimpan cerita yang terkadang akan membuat kamu rindu untuk kembali. Barangkali juga bukan karena pesona alamnya yang menawan atau citarasa kuliner yang memanjakan lidah, tapi yang terpenting itu dengan siapa kita akan memulai merangkai cerita perjalanannya.

Sedikit bingung juga bila ada teman yang bertandang ke Kota Padang mau diajak jalan-jalan kemana. Apalagi bila waktunya sangat terbatas dan malam hari pula. Objek wisata di kota Bengkuang ini cukup banyak sehingga membuat saya bingung. Hayo mau kemana coba? (Ini list Objek Wisata Kota Padang)

Kala itu, usai melaksanakan salat Magrib saya berencana untuk berkeliling Kota Padang bersama Yonggi. Saya mengenalnya ketika kami satu komunitas traveler Instagram yang tergabung di @Instravelmate. Dalam komunitas tersebut berbagai traveler seluruh Indonesia bergabung dan kita berkomunikasi dengan massager WA. 

Meskipun komunitas ini terbilang baru namun dibeberapa daerah seperti di Jambi dan Batam sudah melakukan meetup. Karena itu, pentingnya meetup bila menjalin pertemanan di dunia maya. Untuk bertatap muka dan lebih saling mengenal satu sama lainnya.

Tidak mau ketinggalan, rencana kegiatan meetup juga saya niatkan untuk bisa diadakan di area Sumatra Barat. Meski anggota Cuma 4 itu pun dari 2 kota yaitu Padang dan Pariaman tapi tidak jadi masalah kok. 

Saat itu Yonggi mengirimkan pesan dan mengabarkan sedang berada di Kota Padang. Singkat cerita kami pun berencana untuk bertemu. Diputuskanlah usai bada Magrib bertemu di kos temannya sekitar Patenggang Jalan Dr. M. Hatta pada 21 Juli 2016 lalu. 

Yonggi adalah pemuda Minangkabau kelahiran Kabupaten Padang Pariaman yang kini tinggal di Kota Bogor. Yonggi ini sedang liburan mudik lebaran ke kampung halamanya usai menyelesaikan pendidikannya di salah satu perguran tinggi swasta di Kota Bogor.

Selama merantau Yonggi sudah lama tidak menginjakan kaki ke Kota Padang. Tidak heran dunk dia akan ‘memakasa’ untuk bertemu dan mengajak keliling Kota Padang. Saya putuskan untuk pergi nongkrong di kelenteng sembari seruput kopmil.

“Mau jalan-jalan kemana nih?’ tanya pada Yonggi.

“Terserah uda saja, soalnya Yonggi tidak tahu daerah Kota Padang,” jawabnya yang membuat saya tambah bingung. Hahaha

Nah, momen meetup bersama Yonggi ini menjadi dasar juga bagi saya untuk menyiapkan berapa iteneri destinasi wisata yang paling cocok dalam keadaan ini. Dengan menggunakan sepedah motor kami mulai berjalan menuju Kawasan Pondok melalui Anduring ke Andalas lanjut menuju Tugu Tigo Tali Sapilin di Simpang Haru. 

Kemudian melewati jalan Sisingamangaraja ke RS. Ganting hingga sampai ke Masjid Raya Ganting dan terus tiba di kelenteng. Dalam perjalanan ini, saya jelaskan juga nama daerah dan sekilas tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi, namun untuk kesempatan ini tidak dulu. Next time saja kali ya.



Adalah destinasi pertama yang dikunjungi. Kenapa saya memiih lokasi ini karena salah satu tempat berkumpulnya anak muda Kota Padang, memiliki kuliner yang hits dalam hal ini minuman Kopmil serta terdapat dengan Kelenteng See Hin Kong yang menjadi tempat favorit untuk hunting. 

Malam itu, kawasan Pondok yang berada di jalan kelenteng ini tidak begitu ramai oleh kaula muda begitu juga dengan Kelenteng See Hin Kong tidak banyak yang berkunjung kecuali warga keturunan Tiongkok usai melaksanakan ibadahnya. Mumpung sepi, saya sempatkan juga untuk mengabadikan beberapa petik gambar.

“Mau foto disini enggak? “ tanya saya pada Yonggi.

“Boleh uda,” jawabnya.

Kelenteng See Hin Kong ini pertama dan tertua loh di Sumatra Barat. Jadi sangat disayangkan bila ke Kota Padang tidak singgah dan melihat kemewahannya. Karena kelentengnya mau tutup, kami keluar dan duduk di pelataran kedai orang yang berhadapan langsung dengan penjual Kopmil Om Ping

Kopmil merupakan minuman yang terdiri dari campuran kopi dan milo yang menjadi favorit bagi kaula muda di Kota Padang. Kopmil sudah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama bagi kaula muda Kota Padang. Selain karena rasa dan hargannya yang terjangkau, tapi karena menjadi ajang pergaulan. Satu bungkusnya cuma Rp.10 ribu.

Sembari seruput kopmil dan cerita-cerita, tidak sengaja Yonggi bertemu dengan temannya yang di rantau (gk tau namanya). Dari sedikit percakapannya terlontar kata seperti ini ‘Eh, Yonggi ma, anak nongkrong kopmil ma’. Artinya kopmil ini memang sudah terkenal sebagai minuman pergaulan. Cocok deh mengajak Yonggi ke sini. 

Demam Pokemon

Kawasan Pondok ini juga bisa menjadi pilihan untuk mencari pokemon loh. Saat mengajak Yonggi ke sini dia banyak menemukan pokemon. Sempat-sempatnya juga dia berjalan untuk menangkap pokemon. Di sini terdapat area battle, pokemonnya dan pokestop. 

Kalo dilihat orang yang menggunakan permainan Pokemon Go ini suka sibuk dengan ponselnya sendiri dan kadang tidak memperdulikan orang sekitarnya. Saya sendiri tidak ikutan bermain pokemon karena ponselnya tidak support, mungkin untuk saat ini hehe

Pantai Padang dan Pesonannya



Destinasi selanjutnya menyusuri pesisir pantai di pusat Kota Padang. Dari kawasan Pondok ke pantai tidaklah jauh. Hanya beberapa menit saja berkendara dengan motor sudah terlihat hamparan air laut yang luas. Kami berjalan melalui jembatan Siti Nurbaya yang terkenal dengan jajanannya berupa jagung bakar dan pisang bakar. Kemudian melewati bangunan heritage yang kini dimanfaatkan menjadi cafe dan hits pula tempatnya hingga sampai di Pantai Muaro Padang. 

Dulu banyak bangunan liar yang menjual telur penyu dan tepian pantainya pun tidak terlihat akibat tertutup oleh bangunan tersebut. Itu dulu, kini sudah bersih, sepanjangan mata bisa memandang lautan dan menikmati suasana senja sembari minum es kelapa muda. Beberapa waktu yang lalu di Pantai Muaro Padang ini ada sepasang bule yang berjemur dan cukup heboh menjadi viral di media sosial. Artinya pantai di Kota Padang sudah nyaman bagi turis asing.

Dari Pantai Muaro Padang diteruskan melewati kawasan Taman Melati yang terdapat beberapa taman dihadapannya seperti Taman Dipo, Taman Tugu Gempa dan Taman Joang Sumatera. Di sini juga menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak muda Kota Padang di malam hari.

Selanjutnya menyusuri Pantai Padang hingga menuju Pantai Purus yang memiliki landmark tulisan Padang. Pantai juga menjadi salah satu pusat berkumpulnya anak muda Kota Padang. Sembari nongkrong, sembari menghilangkan penat dengan bermain air atau duduk-duduk manja sambil makan bakso bakar, cucik kerang langkitan/pensi dan kerupuk kuah mie sebagai jajanan khasnya. Bagi masyarakat Minang sering menyebutknya tempat ini Taplau (Tapi Lauik). Main ke Taplau yuk. Begitulah kirannya bunyi ajakannya. 

“Berhenti uda, Yonggi pengen foto di sini” mintanya.

Kami pun sampai di destinasi ketua yaitu landmark tulisan Padang Iora. Tempat yang cukup mainsteam bila ingin berfoto di sini sebab tidak pernah sepi dan selalu ramai bahkan hingga larut malam pun. Cukup dengan bayar parkir motor Rp.2ribu kita sudah bisa berselfie ria sepuasnya dengan ditemani deburan ombak yang ada dibelakangnya. 

Bila pernah berkunjung ke Pantai Purus dua atau tiga tahun yang lalu akan terlihat banyak tenda ceper, payung ceper dan lapau-lapau yang berada di bibir pantai sehingga menghalangi pemandangan. Terkesan semraut kelihatannya bila ke Pantai Purus ini. 

Berbeda dengan sekarang, hampir semua pantai yang berada dipusat kota ini mulai tertata, nyaman, bebas palak dan bersih dari lapau-lapau. Sebagai gantinya dekat Danau Cimpago (danau buatan) dibangun LPC (Lapau Panjang Cimpago) kedai baru yang disedikan oleh pemerintah kota. 

Inilah wajah baru dari pantai-pantai yang berada di pusat Kota Padang ini. Bagaimana pun juga mengabadikan momen di landmark ini bisa disebut sah telah mengunjungi kota yang dikenal dengan cerita Malin Kundang dan Siti Nurbayanya ini. Kabarnya sunset di Pantai Padang ini tak kalah cantik dengan yang di Bali loh.

Bila dilanjutkan lagi akan melewati Pantai Muaro Lasak. Di sana terdapat taman yang bernama Taman Muaro Lasak dan terdapat Monumen Perdamaian Merpati. Tempat ini juga cukup ramai dikunjungi, seperti saat di landmark tulisan Padang di Pantai Purus.



Tinggalkan area pantai, kami pun lanjut melalui jalan Raden Saleh Padang Baru yang tembus ke perempatan Masjid Raya Sumatera Barat (dulu sebelum ada masjid ini dikenal dengan simpang Telkom). Inilah destinasi ketiga.

Masjid Raya Sumatera Barat termasuk masjid yang unik di dunia. Memadukan berbagai unsur arsitektur tradisional dan modern sehingga tercipta kesan yang artistik dan unik. Masjid ini belum sepenuhnya siap masih proses pembangunan. Tenang saja masjid ini sudah digunakan untuk beribadah. Ketika lebaran kemarin, Presiden Jokowi saja salat Idul Fitri 1437 H di masjid ini.

Memang pengaruh media sosial dalam mempromosikan suatu tempat sangat besar sekali. Hal itu berdampak juga pada masjid ini. Meski sejatinya bukan diperuntukan untuk destinasi wisata, namun masjid ini tidak pernah sepi dan selalu ramai oleh masyarakat yang ingin mengabadikan momen. Biasanya tempat favoritnya di landmark tulisan nama masjid ini dan jalan-jalan menuju ke lantai dua masjid. 

Saat saya dan Yonggi singgah sejenak ke sini pun terlihat beberapa sekumpulan orang yang sedang duduk-duduk dan berfoto-foto. Dalam suasana malam yang pencahayaan minim pun bisa menghasilkan jepretan yang ciamik bila hunting ke sini. Masjid Raya Sumatera Barat ini sudah menjadi ikon dan kebanggan tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Eh ada pokemon juga oh di sini. Hehe

Mie Aceh Akbar

Tidak terasa juga hampir larut malam dan lapar pun melanda. Sambil jalan pulang kami pun singgah untuk mengisi perut dan mencari menu makanan yang anget-anget. Dipilihkan Mie Aceh Akbar yang lokasinya di jalan By Pass Ketapiang depan SPBU. 

Mie Aceh salah satu menu favorit saya jika bosan dengan menu makanan yang biasanya. Sambil menyantap hidangan kami pun saling berbagi pengalaman seputar dunia traveling terutama soal daki mendaki. Maklum seumur hidup saya belum pernah mendaki gunung. Kalau pun sudah itu pun Gunung Padang. Hanya namannya saja sih, bukan gunung sesungguhnya hanya bukit yang dikenal dengan legenda Siti Nurbaya.

Dari abis Magrib hingga tengah malam, tepatnya selama enam jam lamanya putar-putar Kota Padang, melewati objek wisata dan telah singgah di lokasi-lokasi yang cukup hits di Kota Padang (maaf cuma bisa segitu saja tempat wisatanya). Saya pun antar kembali Yonggi ke kos temannya dan segera pulang ke rumah. Semoga pejalanan ini berkesan dan akan selalu rindu untuk kembali ke kota ini. Jangan lupa ajak teman-temannya ke Kota Padang. Hehe

Kota Padang, bukan sebuah kata rindu saja, tapi ini soal berjuta rasa yang tak bisa diungkapkan. Dan kamu harus juga tahu kenapa Kota Padang itu asik? Ya,  karena ada aku yang akan mengantar kamu jelajah kota ini. Tssh..Yuk jelajah nagari awak. Ayo ke Padang!
————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...