Monday, October 10, 2016

Menengok Jembatan Air Batu Busuk yang Hits di Kota Padang


Selama ini kawasan Batu Busuk, Kota Padang tidak begitu dikenal dan masih asing bagi sebagian masyarakat. Berada jauh dari pusat kota dan hanya dihubungkan oleh satu jembatan sehingga daerah ini seakan sulit untuk diakses.

Mendadak sekitar bulan Mei 2016 lalu, nama daerah Batu Busuk menjadi terkenal. Terutama ketika pengguna media sosial yang mengunggah hasil fotonya ke Instragram. Kok bisa dan apa yang menarik dari foto itu? Ya, dampak media sosial memang besar dalam menyebarkan informasi kepada publik.

Saat itu di halaman pencarian Instagram banyak bermunculan foto yang digambarkan saluaran irigasi yang airnya jernih dan berwarna biru dengan suasana panorama pebukitan yang diambil dari ketinggian. Tentunya foto tersebut membuat penasaran dan berbondong-bondong deh orang berkunjung ke tempat ini. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang pertama kali mengunggahnya dan tempat ini seakan menjadi destinasi wisata yang instargrammable banget.

Tempat itu bernama Jembatan Air PLTA Kuranji atau Jembatan Air Batu Busuk. Jembatan ini berada di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Labuang Bukit, Kecamatan Pauh Kota Padang. Berada sekitar 15 km arah Timur Kota Padang.

Saya berkesempatan juga menjelajah daerah Batu Busuk untuk berkunjung ke jembatan ini. Perjalanan dimulai dari persimpangan jalan sebelum menuju Gerbang Kampus Universitas Andalas. Kemudian belok ke kiri, jalan menurun menuju daerah Batu Busuk hingga bertemu dengan dua jembatan, satu jembatan gantung tua dan satu lagi jembatan baru.

Jembatan Gantung Batu busuk

Dulu, sebelum ada jembatan baru ini, jembatan gantung ini menjadi satu-satunya yang menghubungkan antara kampung Kapalo Koto, Limau Manih dengan Kampung Batu Busuk Lambung Bukik. Bila terjadi hujan lebat dan banjir bandang, maka masyarakat akan was-was, sebab bisa menghancurkan jembatan ini. Tak hanya itu, jembatan gantung ini merupakan jembatan bersejarah karena dibangun ketika pemerintahan Hindia Belanda dan kemungkinan telah berumur lebih dari 100 tahun.

Akses dan infrastruktur jalan sangat memadai, bisa dilalui oleh motor dan mobil pribadi serta truk juga. Terlebih dengan dibangunnya jembatan baru oleh pemerintah Kota Padang pada akhir tahun 2014 lalu, sehingga dapat mempermudah masyarakat dan para penjelajah ketika berpergian ke daerah Batu Busuk.

PLTA Kuranji


Usai melewati jembatan terus saja mengikuti jalan berbeton hingga bertemu dengan gedung PLTA Kuranji. Bangunnya tidak begitu besar, sederhana dan dibangun ketika zaman Belanda. Sebenarnya PLTA Kurnaji ini merupakan pembangkit listrik tenaga air kedua yang dimiliki oleh PT. Semen Padang dan didirikan sejak tahun 1938 untuk memasok kebutuhan listik semen tertua di Indonesia ini.

Awalnya, PLTA ini memiliki tiga mesin pembangkit yang mampu menghasilkan listirk sebanyak 1,5 MW. Namun, tahun 1997 terdapat mesin keempat yang mulai digunakan dan menghasilkan 4 MW. Secara perlahan ketiga mesin yang beroperasi sejak 1938 itu diistirahatkan, tepatnya ketika tahun 2011.

Pasokan listrik ini tergantung dengan debit air yang ada, bila dalam kondisi normal maka PLTA ini mampu menghasilkan daya sebaesar 2,5-3 MW per hari. Bila debit air di bawah normal, pasokan listrik untuk PT. Semen Padang sekitar 1 MW per hari.

Terdapat dua sumber air untuk PLTA Kuranji ini yang berasal dari Padang Jernih dan Padang Keruh yang hubungkan oleh saluran air dan dikumpulkan pada bak penyering dan dialirkan ke PLTA Kuranji melalui pipa pesat sehingga air itu menggerakan turbin yang ada untuk menghasilkan listrik.

Jembatan Air PLTA Kuranji


Dari PLTA Kuarji ini dapat diteruskan menuju jalan Patamuan. dengan menggunakan motor saya terus melaju hingga sampai dipersimpangan jalan. Di sana terdapat sebuah papan iklan layanan masyarakat berukuran 2x1 m yang telah kusam. Dari titik itu ada dua jalur, pertama jalan mendaki yang lebarnya tidak lebih dari 1 m dan jalan datar yang bisa dilalui mobil.

Saat itu saya bersama sahabat-sahabat @MataPonsel Sumbar. Kami memilih jalan datar terus hingga sampai satu kedai. Kami parkir kendaraan dan bayar Rp. 2.000,- per motor. Selanjutkan dengan berjalan kaki mulai penjelajahan. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah yang bisa dilalui, namun kami justu memilih jalan yang menantang. Cocok untuk berpetualang. Sebab tidak tahu jalan, meski sudah ditanya kepada penduduk setempat. Hehehe

Perjalanan pertama melalui jembatan gantung  dengan lebar lebih dari 1 m, sudah berulang kali rusak dan putus. Terakhir saya melihat jembatan ini dalam kondisi memprihatinkan, tapi sekarang sudah baik. Jembatan ini satu-satunya menghubungkan Kampung Batu Busuk dengan dusun Pintu Gabang.

Selanjutnya menyusuri persawahan yang berada dekat tepi sungai dan terus turun hingga berada dialiran sungai. Kala itu, matahari cukup terik bersama awan mendung yang kemungkinan akan datang. Air sungai tidak deras. Bebatuan besar begitu banyak dan kami lewati satu persatu hingga terlihat dari kejauhan jembatan yang akan dituju. Langkah kaki dipercepat, sementara beberapa teman saya sedang asik berfoto-foto.

Kami berada di lokasi yang berseberangan dengan jembatan itu, maka harus menyusuri sungai. Untung saja aliran airnya tidak deras dan dangka sekira 30 cm. Setelah berhasil menyeberang semuannya, kami masih harus berjalan melewati perkebunan warga yang berada di kaki bukit.

Ada hal yang tak terduga ketika akan sampai ke jembatan air ini, salah seorang teman tiba-tiba lemas dan pusing serasa mau pingan. Uusut punya usut, tadi kami melewati kuburan dan dia juga belum sarapan pagi. Wah ini yang gawat. Kami sebut “tasapo” deh dia.  Tinggal selangkah lagi akan sampai, kami berada persisi di bawahnya. Jembatannya tinggi sekali dan saya kagum dengan konstruksinya.

Setelah melewati perjalanan yang menantang dan tak terduga, akhirnya sampai juga di jembatan air ini. Rasa lelah terbayarkan ketika melihat panorama alam yang disuguhkan. Luar biasa indahnya. Bukit sekeliling yang letaknya hampir sejajar dengan posisi saya berdiri. Coba tengok ke bawah. Wis, tinggi sekali. Agaknya sedikit gamang jadinya, tapi pemandangannya tidak kalah indah juga.


Sebab viralnya tempat ini, karena uniknya jembatan. Panorama alam yang mempesona dan air yang mengalir itu warnanya biru sehingga menarik bila diabadikan dan membuat penasaran orang.

Saya sebut nama tempat ini Jembatan Air PLTA Kuranji, karena jembatan ini merupakan kanal (saluran headrace) yang berfungsi untuk menyalurkan air dari sungai Padang Janiah dan Padang Karuah yang berada di Bendungan Patamuan menuju pemutar turbin PLTA Kuranji miliknya PT.Semen Padang.

Sedangkan masyarakat sekitar menyebutnya Saringan, karena di tengah saluran airnya disanggah oleh beton-beton yang berbentuk persegi, menyerupai saringan-sariangan. Banyak juga yang menyebut tempat ini Jembatan Batu Busuk. Mungkin ini terlalu luas, sebab di daerah ini banyak loh jembatanya. Jadi kesimpulannya dari nilai guna jembatan ini memang cocok diberi nama Jembatan Air PLTA Kuranji (maksa deh hehe).

Jembatan ini memilik nilai sejarah tersendiri, sebab dibangun sejak zaman Belanda. Memiliki ketinggian sekitar 20 m dengan lebar kira-kia 2 m dan tinggi kanal sekitar 2 m. Terdapat jalur jalan yang lebarnya sekitar 50 cm. Ketinggian jembatan air ini hampir setara juga dengan pohon durian dan jengkol yang ada di sekitar perbukitan ini.

Bendungan Patamuan

Bila diteruskan lagi menuju sumber aliran air ini akan bertemu dengan sebuah bendungan yang bernama Patamuan.  Untuk sampai kesini  dapa berjalan kaki dan naik motor kira-kira 2-3 km. Akses jalannya cukup baik, namun ketika menuju ke bendungan jalannya tanah berbatu, bila hujan tentu akan becek.

Kabarnya nama Patamuan ini merupakan bertemunya air Padang Karuh dan Padang Janiah. Sedang versi lainnya menyebutkan Patamuan merupakan daerah tempat bertemunya tentara Hizbullah untuk mengatur strategi saat menggempur penjajah.

Di tengah Padang Janiah dan Padang Karuah berdiri megah sebuah bukit dengan sisi yang curam. Masyarakat sekitar menyebutnya Bukik Pungguang Ladiang. Kemungkinan nama ini diberikan karena sisi bukit yang curam dengan penurunan tajam, seperti ladiang (parang).

Terlepas dari semua itu, Patamuan ini salah satu tempat pemandian alam yang sering dikunjungi oleh masyarakat sekitar, terutama ketika menyambut bulan Ramadan. Di sini terdapat lubuak (kolam) yang jernis berwarna biru dan biasanya dimanfaatkan pengunjung untuk bermain air. Lubuak ini dikenal dengan nama Lubuak Mande Rubiah. Konon katanya lubuk ini merupakan tempat pemandian bidadari yang diasuh seorang ibu di kawasan Batu Busuk yang bernama Mande Rubiah.

Sebenarnya terdapat jalan untuk melintas dari PLTU Kuranji ke Bendungan Patamuan ini yang jalannya melingkar dibawah jembatan ini melewati kaki bukit. Namun untuk mempercepat lintasannya banyak yang melewati jembatan air ini.

Nah, sebenarnya juga jembatan air ini bukan diperuntukan untuk objek wisata, tapi yang menjadi tempat wisata sebenarnya adalah pemandian alam di sekitar Bendung Patamuan itu. Ini akibat booming di Instagram, seakan jembatan air ini menjadi destinasi baru dalam mengisi hari libur.

Tempat ini memiliki tingkat resiko bahaya kecelakan yang lebih tinggi. Untuk itu, bila ingin berkunjung ke tempat ini harus berhati-hati, terutama saat melintas, jembatan ini tidak memiliki pengaman yang standar. Jangan terlalu girang sekali saat berfoto dan selfie, tanpa mengindahkan kesalamatan diri. Bisa dibayangkan deh bila jatuh dari ketinggian 20 m. Wis, mengerikan sekali. Cukup deh merasakan indahnya jatuh cinta saja. Eh.

Jembatan air ini berada di kawasan hutan yang masih asri berpagarkan bukit barisan. Menariknya di Indonesia jembatan air ini ada 2 yaitu Jembatan Air PLTA Kuranji di Kampung Batu Busuk, Kota Padang dan Jembatan Air Bululawang di Kabupaten Malang.

Belakangan saluran air dari jembatan ini ramai digunakan untuk mandi-mandi dengan memanfatkan ban dalam bekas, seakan sedang bermain di seluncuran waterboom atau bermain tubing mengikuti aliran dalam saluran ini. Memacu adrenalin dan menyenangkan.


Batu Busuk Potensi Dikembangkan Menjadi wisata

Bila dilihat dari kondisi lingkungannya, kampung Batu Busuk ini masih asri dan memiliki banyak potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dan wisata sejarah karena memiliki banyak peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kampung Batu Busuk ini berada di ketinggian lebih 255 mdpl membuat daerah ini berhawa sejuk dengan panorama alam yang hijau dan menyegarkan mata. Cocok ingin berpetualang dan menikmati hari libur.



Peta Lokasi Jembatan Air PLTA Kuranji:

————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.
Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

15 comments:

  1. Replies
    1. Ayo jelejah Padang :D
      Terima kasih udah berkunjung :D

      Delete
  2. Iya nih, kalau dikembangkan bisa keren lokasinya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang keren uda, masih banyak tempat yg perlu dikembangkan. hehehe

      Delete
  3. iyaa padahal cuma jembatan sederhana tapi pemandangan bagus jadi terkenal. kereeen

    btw bisa mandi di sungai bawahnya ? 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi jembatannya keren mas, tahan gempa, hujan badai. Hehe
      Bisa anak2 byk yg mandi2 main tubing gto mas heehee .😂😂

      Delete
  4. wihh.. jembatannya keren..
    viewnya kecehhh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih uni, masa cuma jembatan n viewnya, orangnya gimana? hehehe

      Delete
  5. tempo hari ketinggalan temen-temen maen ke sini, jadi belum sempat berkunjung lagi padahal kepo sama jembatan airnya. tapi bener ya, harus safety first :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia harus saftety first. Kalo mau selamat soalnya gk ada pengamannya di jembatan itu. Hehe

      Delete
  6. Hy kak ubay.. Anggota backpacker padang ya? Boleh minta kontak wa? Bisa bales ke email aku : shintanatalia9@gmail.com .. Thankyoou

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay juga uni Shinta.
      Salam kenal dari Ubay.
      Gk uni, gk anggota backpacker Padang. Oke uni nanti Ubay kirimkan.
      Terima kasih

      Delete
  7. airnya bening bisa jadi kolam renang yaaa tapi kayanya aliranya deras ya, bahaya kalo renang disitu ntar kebawa arus :o
    Bener oh ya sekarang enaknya wisata di Indonesia makin bangkit, salah satunya berkat instagram dan medsos lainnya. Semoga kedepannya jembatannya dibuat pegangan yg aman ya kalo emang mau dijadiin objek wisata

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia uni. Tapi tempat ini sejatinya bukan untuk destinasi wisata. Tidak jauh dari tempat ini baru merupakan destinasi wisata pemandian alam. Hehe

      Delete
  8. Terimakasih atas cerita sejarah min

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...