Tuesday, February 21, 2017

Batu Busuak Pemandian Alam Berkolam Biru dan Menyimpan Kisah Historis


Sebagian di antara kita mengira Kota Padang ini memiliki wilayah yang sangat kecil. Namun, ternyata itu salah. Coba saja menjelajah ke bagian timur yang berada di daerah ketinggian dan belum padat penduduknya. Barisan perbukitan memagari kota bengkuang ini. Hamparan hutan lindung dan konservasi menghiasi. Serba hijau dan menyegarkan. Puluhan sungai dan anaknya mengalir jernih dengan tenangnya menghidupi sekitarnya. Menarik dan berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Padang.

Kampung Batu Busuak namanya. Berada di Kelurahan Lambung Bukik, kecamatan Pauh, Kota Padang. Menuju tempat ini tidak sulit, akses dan infrastruktur jalan sangat memadai, bisa dilalui oleh motor dan mobil pribadi serta truk juga. Secara topografi lokasi Batu Busuak ini berada di kaki bukit yang memiliki ketinggai 255 mdpl dan dikelilingi oleh perbukitan dan sungai membuat daerah ini berhawa sejuk dengan panorama alam yang hijau dan menyegarkan mata. Cocok ingin berpetualang dan menikmati hari libur.

Saya berangkat menggunakan motor bersama abang Hidayadyad, Denni, Aqib dan Aidil untuk menyusuri keindahan alam dan potensi pemandian alam yang ada di tempat ini. Dari pusat kota sekitar 15 km menuju gerbang Kampus Universitas Andalas. Kemudian belok ke kiri menuruni jalan Batu Busuak, ikuti jalannya yang terbuat dari beton ini hingga bertemu dengan dua jembatan, satu jembatan gantung tua dan satu lagi jembatan baru.

Dulu, sebelum ada jembatan baru ini, jembatan gantung ini menjadi satu-satunya yang menghubungkan antara Kampung Kapalo Koto, Kelurahan Limau Manih dengan Kampung Batu Busuak Kelurahan Lambung Bukik. Jembatan gantung ini merupakan jembatan bersejarah, karena dibangun ketika pemerintahan Hindia Belanda. Kemungkinan telah berumur lebih dari 100 tahun.

Gedung PLTA Kuranji PT. Semen Padang
Selanjutkan belok ke kanan melewati PLTA Kuranji miliknya PT. Semen Padang hingga sampai dipertiga jalan menuju pedalaman daerah Batu Busuak. Di sana terdapat sebuah papan iklan layanan masyarakat berukuran 2x1 m yang telah kusam. Dari titik itu ada dua jalur, pertama jalan mendaki yang lebarnya tidak lebih dari 1 m dan jalan datar yang bisa dilalui mobil.

Di titik itu, kami memutuskan untuk menitipkan kendaraan di kedai penduduk di sana. Perjalanan dimulai dan kami treking menuju Bendungan Patamuan yang memiliki lubuak atau kolam tempat pemandian. Sebenarnya bisa dilalui dengan motor hingga bendungan, tapi aksesnya cukup berbahaya (bagi yang belum terbiasa), sehingga kami memutuskan untuk jalan kaki. Anggap saja untuk membakar lemak. Hehe

Menurut cerita lisan masyarakat sekitar, penamaan Batu Busuak itu berasal dari batu yang mengeluarkan aroma tidak sedap. Di daerah ini dulunya ada terdapat sebuah batu berukuran cukup besar yang bernama Batu Puru. Batu tersebut mengeluarkan air yang busuk (berbau) yang menyengat seperti bau bangkai sehingga diberi nama daerah ini Bati Busuak.


Selama perjalanan akan melewati tepi-tepi bukit yang dikelilingi pepohonan tinggi dan ilalang. Lebar jalannya kurang dari 1 meter. Kemudian sampai di lokasi titik akhir water flowing batu busuak. Tempat ini semacam wahana air yang merupakan kanal dari jembatan air PLTA Kuranji yang digunakan untuk mandi-mandi dengan memanfatkan ban dalam bekas, seakan sedang bermain di seluncuran waterboom atau bermain tubing mengikuti aliran dalam saluran ini.

Sebenarnya kanal (saluran headrace) ini berfungsi untuk menyalurkan air dari sungai Padang Janiah dan Padang Karuah yang berada di Bendungan Patamuan menuju pemutar turbin PLTA Kuranji. Tempat ini pernah hits di tahun 2016 dan saya ulas dengan judul Menengok Jembatan Air Batu Busuk yang Hits di Kota Padang.
  
Bendungan Patamuan, Kuat dan Bersejarah

Kanal air menuju PLTA Kuranji
Memang untuk mencapai bendungan patamuan ini tidak sulit, tinggal mengikuti saja kanal air PLTA Kuranji maka akan sampai di lokasi yang kita tuju. Benar, saya sudah membuktikannya, tidak sulit. Hanya saja pejalanannya memakan waktu, maklum baru pertama kali ke tempat ini dan belum tahu jalannya.

Hari itu cuaca sangat cerah sekali. Terik sinar mentari begitu menyengat kulit. Kami masih terus berjalan. Kiri kanan hanya terlihat barisan bukit dengan pepohonan yang hijau, hamparan sawah dan sungai yang berada jauh di bawah kaki bukit serta sesekali terdengar suara gemericik air menjadi suguhan selama perjalanan. Rumah penduduk yang tinggal di sekitar daerah ini pun bisa dihitung dengan jari dan jaraknya berjauhan.

Sisi pengatur debit air kanal PLTA Kuranji dan Bendung Patamuan Batu Busuak
Akhirnya, kanal air ini telah menuntun kami hingga sampai di lokasi bendungan. Di sana terdapat satu banguan tua yang berfungsi sebagai tempat pemantau dan pengatur debit air dari Sungai Bukit Patamuan menuju kanal air PLTA Kuranji.

Menurut ceritanya, nama Patamuan ini berasal dari pertemuannya air Padang Karuh dan Padang Janiah yang menjadi sumber penggerak turbin PLTA Kuranji. Sedang versi lainnya menyebutkan Patamuan merupakan daerah tempat bertemunya tentara rakyat untuk mengatur strategi saat menggempur penjajah.

Dari tulisan blog As Ril diceritakan pada 14 Juni 1946 pasukan Inggris pernah menyerang Batu Busuak untuk membebaskan kaki tangan mereka yang ditangkap oleh pasukan TRI (Tentar Rakyat Indonesia).

TRI yang sudah mengetahui akan adanya serangan tersebut, mengatur siasat dengan membiarkan pasukan Inggris memasuki Batu Busuak. Serangan dilancarkan pada waktu pasukan itu kembali ke Kota Padang. Dalam pertempuran ini 13 anggota TRI gugur dan puluhan orang mengalami luka-luka. Satu regu tentara India muslim melakukan desersi dan bergabung dengan laskar Hizbullah. 

Di tengah Padang Janiah dan Padang Karuah berdiri megah sebuah bukit dengan sisi yang curam. Masyarakat sekitar menyebutnya Bukik Pungguang Ladiang. Kemungkinan nama ini diberikan, karena sisi bukit yang curam dengan penurunan tajam seperti ladiang (parang).

Bangunan pengatur debit air kanal PLTA Kuranji
Peralatan pengatur debit air kanal PLTA Kuranji 
Bendungan Patamuan Batu Busuak dan bangunan tua ini merupakan peninggalan zaman Belanda. Bendungan ini memiliki panjang kira-kira lebih dari 25 meter dengan tinggi lebih dari 15 meter. Saya sangat kagum dengan konstruksinya. Kuat dan mengesankan. Betapa tidak, sudah puluhan kali, bahkan bisa lebih banjir bandang menghantam daerah ini, membawa material batu dan kayu tapi tidak menghacurkan bendungannya. Luar biasa.

Saya sempat masuk ke dalam ruangan pengatur debit air. Peralatannya masih asli belum ada yang diganti. Dulu untuk membuka pintu air secara manual sekarang dibantu dengan menggunakan pompa. Begitu juga bangunannya, hanya atapnya saja yang telah diganti. Pintu airnya pun terbuat dari kayu yang kemungkinan masih asli sejak dulu.

Bendungan Patamuan Batu Busuak
Kami pun mencoba turun ke bawah bendungan. Melihat lebih dekat pintu-pintu keluaran air tidak semuanya dialiri air ada yang terhalang bebatuan. Bisa jadi karena debit air sedang berkurang. Dari bawah ini terlihat seperti air terjun. Begitu deras mengalir, jernih, sejuk dan berwarna biru. Sekeliling banyak sekali bebatuan dan ada bekas reruntuhan banguan akibat hantaman banjir bandang.

Matahari ini tegak di atas kepala, sesekali angin kencang yang menjatuhkan dedauanan kering dan melayang-layang dihadapan. Kami segera pergi dari bendungan melanjutkan penelurusan mencari kolam pemandian. 

Bendungan Patamuan Batu Busuak dan kolam yang berwarna biru

Lubuak Patamuan dengan Kolam-Kolam Biru

Perjalanan menuju Lubuak Patamuan Batu Busuak
Satu persatu bebatuan kami lewati. Melangkah terus hingga sampai di lokasi lubuak yang ingin kami tuju. Entah apa sebabnya hingga saat ini saya belum menemukan jawaban mengapa tiap ada lubuak di Batu Busuak ini berwarna biru begitu juga dengan aliran air sungainya terlihat biru. Itu sebabnya menjadi pemikat dan membuat rasa penasaran muncul sehingga memutuskan untuk melakukan jelajah nagari awak ke tempat ini.

Sempat menanyakan kepada penduduk sekitar spot di mana saja yang biasa digunakan untuk tempat bermain air. Ada yang menunjukan di atas bendungan, ada juga di bawah bendungan. Kami sempat meninjau yang di atas, tapi tidak seru untuk bermain air karena dangkal dan tidak ada kolamnya.

Lubuak Patamuan Batu Busuak
Setelah berjalan terus akhirnya sampai ditempat yang diinginkan. Sepertinya ini lokasinya. Sebut saja Lubuak Patamauan namanya, berada di aliran sungai yang memiliki kolam berwarna biru. Persisi di bawah aliran Bendungan Patamuan. Tidak banyak bebatuan dan tidak begitu deras. Dari bangunan pemantau debit air terlihat lokasi pemandiannya. Berwarna hijau tosca bila dilihat dari kejauhan, tapi ketika dilihat lebih dekat ternyata berwarna biru kolamnya. Sungguh menakjubkan. Ini asli birunya tidak hasil editing.

Ayo mandi! Ajakan yang tidak bisa dibendung bila sudah melihat air yang jernih dihadapan mata. Kolamnya cukup dalam terlihat dari warnanya. Semakin berwarna semakin dalam kolamnya. Tempat ini cocok untuk bermain air seperti berenang, cliff jumping. Mengingat kala itu kami tiba tengah hari dan cuaca sangat terik sekali, saya mengurungkan niat untuk bermain air.

Saya duduk saja di tepian dinding sungai, menandang kolam yang berwarna biru dan melihat rekan-rekan lainnya sedang asik bermain air. Sekali lagi saya menjelajah pemandian alam, tapi tidak pernah basah. Haha

Kawasan Batu Busuak ini secara geografis rawan terjadi bencana alam, mulai dari banjir bandang, longsor hingga kemungkinan kebakaran hutan. Untuk itu bila berkunjung ke pemandian alam Batu Busuak harus selalu waspada dan melihat kondisi alam. Bila sudah ada awan gelap di atas kepala baiknya segera menepi dari sungai dan segera pulang. Satu lagi jangan buang sampah sembarangan, cukup tinggalkan jejak dan kegalauan saja.

Santai di Lubuak Patamuan Batu Busuak

Batu Busuak Heritage dan Destinasi Alfernatif Kota Padang

Lubuak Patamuan Batu Busuak memiliki kolam berwarna biru
Batu Busuak ini memang pantas untuk menjadi tujuan penjelajahan. Banyak hal menarik yang bisa ditemukan di sini. Mulai potensi sumber daya alamnya, panorama alamnya yang indah dan menawan hingga terdapat bangunan tua yang menyimpan nilai historis dan cerita rakyat yang bisa digali.

Kampung Batu Busuak ini juga dapat menjadi kawasan heritage yang berbalut keindahan alam yang menawan. Keberadaan jembatan gantung, PLTA Kuranji, kanal dan jembatan air PLTA Kuranji hingga Bendungan Patamuan. Semua itu menjadi daya tariknya.

Suasana panas asik untuk bermair air di Lubuak Patamuan Batu Busuak
Sayang sekali, matahari kian terik, kolam ini semakin membiru akibat diterpa sinarnya. Kami sudahi jelajah nagari awak untuk edisi kali ini. Cerita baru dan teman baru selalu hadir dalam tiap perjalanan menikmati keindahan alam.

Sebagai informasi, di Kota Padang terdapat dua kawasan yang memiliki pemandian alam dengan air yang biru, pertama di Lubuak Paraku dan kedua tentunya di Batu Busuak. Kedua tempat ini sudah dikenal lama menjadi tempat pemandian alam, sejak zaman kolonial dulu. Bagaimana tertarik mengunjunginya?

Dengan segala potensi yang dimilikinya, kawasan Batu Busuak ini perlu dikembangkan menjadi salah satu alternatif wisata alam di Kota Padang. Mari berpetualang dan menikmati kesegaran pemandian alam Batu Busuak.



Lokasi dalam Google Map:


**Semua foto ini merupakan koleksi pribadi
————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.co.id. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

8 comments:

  1. waaah airnya biruuu, kan biasanya ijo kalo tempat2 seperti itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisanya ia berwarna hijau. Kalo di Padang ada dua tempat yang berwarna biru salah satunya ini. hehehe

      Delete
  2. Awal tahun 2016 kesini,, tapi malah enggak ke kolam birunya. cuma ke bendungannya aja .. hadeeeeeh.. Kalau mau kesini lagi kabarin ya.. Oya mggu kmren jadi ke air terjun di bungus??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya pas kesini cuaca terik kali da. Jadi makin terang warnanya. hehehe alhamdulilah kalo pergi jelajah dapat momen cantik selalu, hehe

      Rencana mau ke air terjun di ulu gadut tapi lihat cuaca dulu

      Delete
  3. air nya kok bisa sebiru itu ya, bagus sekali. tapi terlihat tidak rame mungkin belum terlalu dikenal,

    untuk bebatuan dan warna air instagramable sekali buat foto

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya ini lokasi lama yang kembali diperkenalkan. sudah sejak zaman belanda mungkin udah digunakan untuk pemandian alam. Hingga saat ini masih eksis terutama ketika jelang memasuki bulan ramadhan.

      Ia instagenic sekli tempatnya

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...