Monday, June 12, 2017

Sarasah Siguntur Tuo, Potret Air Terjun di Nagari Gambir



Matahari siang itu begitu terik dan menyengat kulit. Perbatasan Kota Padang dengan Kabupaten Pesisir Selatan sudah dilalui. Perjalanan menuju Nagari Siguntur Tuo tidak terasa sebentar lagi akan tiba. Kali ini akan kembali menjelajah keberadaan air terjun di Nagari Siguntur Tuo, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan.

Air terjun ini tidak banyak yang mengetahuinya dan menyimpan pesona alam yang memukau. Menuju lokasi, mudah dilalui oleh kendaraan. Akses jalannya saja sangat mudah tidak jauh dari jalan lintas barat Sumatra Padang-Painan. Bila dari ibu kota kabupaten sekitar satu jam perjalanan atau dari Kota Padang sekitar 40-60 menit tergantung laju dan jenis kendaraannya.

Dari Kota Padang, dengan menggunakan motor, saya bersama teman-teman Trip Dadakan (yang biasanya pergi menjelajah bersama saya) mencoba menyusuri potensi keindahan air terjun ini. Masyarakat sekitar menyebutnya Air Terjun Siguntur Tuo atau Sarasah Siguntur Tuo.


Sesampainya di pintu masuk jalan menuju lokasi air terjun, kami belok ke kanan mengikuti jalan yang sudah berbeton, masuk ke perkampungan masyarakat setempat hingga sampai di ujung jalan yang buntu dan bertemu pada satu rumah di Blok III No.4. Di sana kami meletakan kendaraan dan ini titik awal penjelajahan dimulai.

Menyusuri Ladang Gambir dan Hutan 

Hamparan ladang tanaman Gambir tumbuh subur sepanjang perjalanan yang kami lewati menjadi pemandangan awal ketika memulai penjelajahan. Kita harus trakking untuk bisa sampai lokasi dengan waktu tempuh selama 20 menit. 

Nagari Siguntur Tuo merupakan satu desa hasil pemekaran dari Nagari Siguntur yang berada pada sepanjang bukit Barisan da terletak dialiran sungai Batang Tarusan, sehingga memiliki potensi panorama alam yang menjanjikan untuk sektor pariwisata. Di samping itu juga potensi pertanian dan perkebunan menjadi andalan nagari ini seperti durian dan gambir.



Tidak berapa lama melangkah akan bertemu dengan aliran sungai dan kami harus menyeberanginya. Selanjut menyusuri kaki perbukitan yang dikelilingi oleh banyak pepohonan. Tidak perlu khawatirkan tersesat karena sudah ada jalan setapak yang bisa dipedomani atau dapat juga mengikut jalur irigasi yang ada. Ikuti jalannya hingga nanti bertemu kembali dengan pertemuan dua aliran sungai.



Kemudian turun ke hingga ke dasar sungai dan mengikut aliran sungai yang sebelah kiri bila dari tempat asal kita. Menyisiri tepian sungai hingga akan bertemu dengan air terjun yang tinggi menari-nari dihadapan. Segar sekali.


Sarasah Siguntur Tuo, Tersembunyi di Nagari Penghasil Gambir


Dari kejauhan tampak air terjunnya. Begitu tinggi dan aliran airnya sangat deras turun dari puncaknya. Sekelilingnya terdapat perpohonan hijau menjulang tinggi memagarinya. Suara serangga hutan dan kicauan burung turut meramaikan tempat yang sebenarnya cukup hening ini.

Kami melewati aliran sungai yang ketinggiannya tidak lebih dari 30 cm, dingin dan sangat jernih. Takjub dan sangat memukau sekali kala melihat air terjun ini lebih dekat. Tidak bisa diungkapkan. Bulir air yang jatuh mengempas dan bertebaran dimana-mana sampai terasa pada kulit ini


Air terjun ini memiliki ketinggian lebih dari 60 meter dengan dua aliran jatuh air yang cukup deras. Terdapat lubuak atau kolam yang tidak terlalu dalam dekat pincurannya. Pengunjung dapat menikmati keindahan air terjunnya atau bila ingin bermain air dan berenang dapat dicoba.


Suasana lingkungannya masih sangat alami dan lokasinya belum begitu banyak pengunjung yang menjamahnya. Meskipun demikian sudah banyak juga awak media pergi meliput air terjun ini.

"Ada banyak wartawan yang pernah datang ke air terjun ini untuk meliput. Biasanya air terjun ini akan ramai dikunjungi masyarakat sekitar ketika jelang Ramadan atau hari libur. Bahkan bule juga pernah mengunjungi air terjun ini," cerita ibu tempat kami meletakan kendaraan.



Sarasah Siguntur Tuo ini sangat menjanjikan sebagai desitansi wisata berpetualang. Lokasi dan landskapnya sangat menawan dan tidak jauh dari rumah penduduk. Tinggal komitmen bersama untuk memfaatkan potensi yang ada untuk menambah pemasukan masyarakat dan desa.  


Namanya menjelajah air terjun, tentu kita harus memperhatikan kondisi cuaca. Di lokasi tidak ada tempat ibadah atau tolilet. Apalagi kedai makanan dan minuman. Baiknya membawa sendiri. Terpenting tidak boleh membuang sampah sembarangan dan merusak alam sekitar.

Sarasah Siguntur Tuo merupakan potret keberadaan air terjun yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di nagari gambir ini.
————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JelajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.co.id. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

4 comments:

  1. epic banget foto pertamanyaaa..
    air terjunnya juga masih bersih banget yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih uni :)
      Ia masih belum terjamah dan masih asri hehe

      Delete
  2. beyubay memang penemu dan pengangkat potensi2 wisata yang ada di Ranah Minang yang masih banyak orang tahu.

    Keep Explore

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe gk juga uda. Sambil jalan-jalan saja uda :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...