Monday, October 2, 2017

Mengunjungi Rumah Gadang Mohammad Saleh, Saudagar Termashyur di Kota Pariaman

Rumah Gadang Mohammad Saleh
Di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar Kota Pariaman, terlihat satu sudut bangunan tua yang beradu dengan bangunan yang bergaya modern di sekelilingnya. Tabuh Gendang Tasa terdengar dari kejauhan. Langkah kaki saya tertuju pada bangunan tua ini. Sudah lama ingin melihatnya lebih dekat.

Kemeriahan alek anak nagari di Kota Pariaman ini mengundang para pengunjung untuk menyaksikan acara puncak Tabuik Pariaman. Iven tahunan ini selalu ditunggu para wisatawan, termasuk saya. Sebelumnya, saya sudah membuat iteneri untuk menjelajah banguan bersejarah, ketika berkunjung ke Kota Pariaman ini.

Saya pun berceria dengan Adil Syaputra tentang bangunan ini, tapi tidak tahu kepunyaan siapa. Rasa penasaran ini membuat kami berjalan menuju satu rumah panggung yang berhimpitan dengan banguan ruko yang terbuat dari batu bata itu. Adil yang menjadi guide selama saya hunting banguan tua di Kota Pariaman. 

Telihat ada bangunan tua bergaya kolonial dan di depan pintunya tertulis tahun berdirinya. Begitu juga dengan rumah panggung itu. Tiba-tiba ada suara orang yang sedang membuka pintu, tanpa basa basi saya pun bertanya seorang ibu mengenai bangunan yang ada di sini. Ternyata tempat ini kawasan rumah dan pertokoaan miliknya Mohammad Saleh.

Moehammad Saleh Datoek Orang Kaya Besar Saudagar Kaya di Kota Pariaman

Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar (1841-1922)

Lantas siapakah tokoh ini? Nah, dalam Rubrik Minang Saisuak Harian Singgalang yang terbit pada Minggu, 13 Maret 2011, Suryadi menuliskan, Pariaman adalah sebuah kota pelabuhan (entrepot) yang sudah tua usianya. Kota ini pernah melahirkan seorang pedagang besar pada abad ke-19, yaitu Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar. 

Mohammad Saleh lahir tahun 1841 di Desa Pasir Baru, Pariaman. Ayahnya, Peto Rajo, juga seorang pedagang, adalah penduduk Pariaman asli. Namun, ayah Peto Rajo adalah keturunan seorang raja di Rigah, Rantau Duabelas, Aceh Barat. Tarus, Ibu Mohammad Saleh, berasal dari Guguak Ampek Koto, dekat Kota Bukittinggi. Mungkin keluarga Tarus telah hijrah ke Pariaman akibat Perang Padri.

Usaha Mohammad Saleh dirintis dari seorang penghela pukat di Pantai Pariaman, menjadi nakoda kapal, sampai akhirnya menjadi seorang pedagang besar yang mempunyai beberapa perahu, pencalang dan kolek yang berlayar hingga sejauh Rigah di pantai Barat Aceh dan Bandar Sepuluh di selatan. 

Dengan perahunya itu Mohammad Saleh membawa aneka komoditi dari satu kota ke kota lainnya di pantai barat Sumatra. Usahanya terus berkembang dan menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat. Pada tahun 1890, Mohammad Saleh sudah menjadi seorang yang sangat kaya dan disegani di Pariaman.

Mohammad Saleh mempunyai beberapa toko di Pariaman dan Padang Panjang. Anak buahnya di darat dan di laut mencapai puluhan orang. Bahan dagangannya berupa macam-macam hasil bumi. Mohammad Saleh juga dipercaya oleh Belanda untuk mendistribusikan garam ke darek.

Dalam riwayat lain, sejarah juga mencatat, seorang Mohammad Saleh Datuk Rang  kajo Basa, antara tahun 1841- 1921, terkenal sebagai seorang perintis perusahaan modern pribumi nusantara di Pariaman. Dalam buku yang ditulis sejarawan Prof. Dr Mestika Zed, M.A., diterbitkan LP3ES dengan pengantar Dr. M Dawam Raharjo, Mohammad Saleh dilukiskan sebagai saudagar Pariaman (yang) menerjang ombak membangun maskapai.

Sukses Mak Saleh yang mendirikan Handel Maatschappij Pariaman pada awal abad ke-20 itu, merupakan representasi, sesungguhya Kota Pariaman pernah “jaya” sebagai pusat perdagangan di masa lalu.

Selama hidupnya Moehammad Saleh menikah sebanyak 14 kali. Gelar kebesarannya (bahasa Minang: Datuak Urang Kayo Basa) diperoleh pada bulan Oktober 1877, dalam upacara khitanan anak pertamanya, Moehammad Taib (lahir pada tanggal 6 Syaban 1281 H dari istrinya yang keduanya, Banoe Idah).

Mohammad Saleh meninggal di Pariaman tahun 1922 dalam usia 81 tahun. Sampai sekarang cerita mengenai Mohammad Saleh tetap hidup di kalangan generasi tua di kota Pariaman. Keturunannya telah menyebar kemana-mana, ada yang merantau dan juga ada yang tinggal di kampung menjadi pejabat daerah.

Pedagang yang Memiliki Otobiografi Sendiri

Mohammad Saleh dan Ototobiografiya berjudul Riwajat Hidup dan Perasaian Saja (Foto: Suryadi)

Kisah sukses Mohammad Saleh sebagai pedagang besar Pariaman pada paroh kedua abad ke-19 dapat kita ketahui berkat otobiografi yang ditulisnya sendiri pada tahun 1914 (tulisan Jawi). Pada tahun 1965 otobiografi itu di-Latin-kan oleh cucu beliau, S.M. Latif.

Dalam buku yang berjudul Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang pada Bab III: Rantau Pariaman, Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX, Tsuyoshi Kato menuliskan, pada tahun 1914, Moehammad Saleh, seorang Minang asal Pariaman (sebuah kota pelabuhan di Sumatra Barat) telah menyususn sebuah buku kenang-kenangan hidup untuk anak-cucunya. Itu adalah sebuah dokumen otobiografi orang Indonesia yang menjangka lebih jauh dari awal abad ke-XX. 

Mohammad Saleh bukan berpendidikan Barat dan nasionalis, melainkan seorang pedagang yang kaya berkat usahanya sendiri. Kisahnya lebih berisi informasi terperinci mengenai kegiatannya sehari-hari sebagai pedagang dan mengandung nasehat praktis mengenai kehidupan pada umumnya dan perdagangan pada khususnya, daripada mengemukakan gagasan-gagasan tinggi atau proses kebangkitan politik. Otobiografi Saleh merekam karirnya dibidang perdagangan yang dimulai dari pertengahan tahun 1800-an diteruskan hingga lebih dari lima puluh tahun.

Jejak Peninggalan Mohammad Saleh

Teras rumah gadang Mohammad Saleh

Di dalam rumah ibu ini, saya melihat ada ubin kuno yang terpasang di lantai bangunan ini. Saya pun tertarik akan hal ini dan meminta izin kepadanya untuk melihat beberapa sudut bangunan di dalam rumahnya. Ternyata lantainya menggunakan ubin yang warna warni dengan berbagai motif.

Tiap pintu dan jendelanya pun terdapat ukiran yang terpasang langsung pada dindingnya. Dindingnya pun  cukup tebal khas bangunan kolonial. Ibu ini menceritakan sedikit tentang Mohammad Saleh ini. Tokoh ini merupakan dulunya perdagang yang kaya dan terpandang di Kota Pariaman.

Ubin klasik dari salah satu rumah batu Mohammad Saleh

1. Rumah Gadang Mohammad Saleh
Rumah Gadang Mohammad Saleh
Kemudian kami keluar rumahnya dan menuju Rumah Gadang Mohammad Saleh. Satu per satu anak tangga telah dinaiki hingga sampai di teras rumah. Saat itu bertemu dengan Ibu Nini yang tinggal di grumah gadang ini. Ia bertanya perihal kedatangan kami maksuda dan tujuannya. Setelah dijelaskan, saya pun meminta izin untuk melihat dan memotret isi rumahnya.

"Silahan masuk. Boleh masuk ke dalam rumah,"  ajaknya dengan ramah.

Penelusuran dimulai dari teras rumahnya. Terdapat beberapa kursi tamu, kursi santai dari kayu, lemari berangkas dari besi hingga dua foto Mohammad Saleh yang terpajang di pintu masuk rumah. tiang diteras ini murni terbuat dari kayu, kuat dan keras sekali. Ini masih asli. Kursi santai yang terbuat dari kayu ini tertulis tahun pembuatannya sekitar awal abad ke-20.  Terdapat juga dua bilik di kiri kanannya yang terkunci.

Teras Rumah Gadang Mohammad Saleh
Memasuiki ke bagian rumah yang pertama terdapat satu set kursi tamu dengan lampu hias klasik keemasan yang menggantung seperti yang terpasang pada bagian teras rumah, meski modelnya berbeda. Sisi kiri dan kananya terdapat dua lemari panjangan yang bentuknya juga kuno. Pada dindingnya terpajang cermin besar dan ada foto rumah gadang ini serta beberapa foto keluarga besarnya. Ini pada bagian kiri jika dari pintu masuk.

Terdapat empat pintu masuk untuk sampai bagian pertama rumah ini. Mungkin dulunya untuk ruang tamu, tapi saat ini terdapat ranjang kasur yang tertata rapi di sisi kiri dan kanannya. Ternyata rumah gadang ini juga pernah di kunjungi Presiden RI kedua, Soeharto. Ini terlihat dari foto yang terpasang pada sisi kanan rumah ini. Menarik sekali.

Ruangan tamu di Rumah Gadang Mohammad Saleh
Melangkah masuk ke ruang tengah atau bisa dibilang ruang keluarga, sebab di sini terdapat empat kamar yang posisinya dua di kiri dan dua di kanan. Terdapat beberapa lemari pajangan dan lemari klasik serta ada satu set kursi sofa.

Ruangan ini berbentuk persegi dengan empat tiang utama dan langit-langit yang tinggi. Banyak barang-barang antik yang dipajang dalam ruangan ini, mulai dari foto keluarga, televisi dan radio jadul, guci keramik hingga tempat meletakan lilin yang unik.

Ruang tengah atau keluarga  di Rumah Gadang Mohammad Saleh
Dari ruang tengah sampai di ruang belakang rumah ini yang berbatas langsung dengan jalan dan pertokokan lainnya. Bagian belakang ini tidak rangkaian dinding dari kayu, melainkan dari tembok batu bata. Ada dua jendela dan satu pintu yang terlihat dari pembatas kedua ruangan ini. Terdapat lemari klasik yang sudah rusak akibat gempat 30 September 2009 lalu. Pajangan dinding yang mengesankan tempo dulu.

Di sini terdapat tiga ruangan yang bersekat dan berbeda funginya, pertama untuk ruang makan. Ada meja makan dan beberapa set kursi santai dan kursi kayu yang dibuat tahun 1930-an. kedua ruanga untuk memasak atau dapur. Pada dinding atasnya dan pintu terdapat ornamen-oranamen yang diukira. Kemudian ruangan ketiga kamar mandi.


Ruangan untuk tempat makan dan dapur di Rumah Gadang Mohammad Saleh
Pintu masuk menuju kamar mandi di Ruamh Gadang Mohammad Saleh
Dari dapur ini terdapat dua jendela yang menghadap kedua bangunan kayu dan batu dengan latar gedung pertokokoaan. Tidak sulit untuk mengunjungi rumah gadang ini, berada persisi di Jalan St. Syahrir tepat depan Lapangan Merdeka, Kawasan Kampung Perak, Kecamatan Pariaman Tengah.

Rumah gadang ini tidak seperti rumah adat tradisional Minangkabau yang berasal dari luhak nan tigo yang memiliki atap gonjong menyerupai tanduk kerbau. Rumah gadang di kawasan pesisir memiliki bentuk atap yang lebih sederhana yang disebut tungkuih nasi (bungkus nasi) atau rumah gadang bertipe Serambi Aceh.

Jika melihat sejarah, dulu kawasan pesisir pantai Sumatra Barat pernah dibawah kekuasaan Kerajaan Aceh sehingga terdapat akulturasi budayanya, jejaknya terlihat dari bentuk rumah gadangnya. Itu sebabnya terkesan Kota Pariaman dan sekitarnya tidak ada rumah adat khas Minangkabaunya.

Rumah gadang ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di Kota Pariaman. Atapnya saja menggunakan genteng yang masih asli dan diproduksi di Tangerang kemungkinan awal abad  20-an.

Kami tidak menyangka akan dijamu dengan makanan favorit saya, yaitu mie goreng. Ibu Nini mengajak kami untuk mencicipi masakannya. Kebetulan ia sedang ingin makan juga sehingga kami pun ikut makan sembari bercerita kisah  Mohammad Saleh ini.

"Mohammad Saleh ini memiliki banyak keturunannya dan kebanyakan tinggal di Jakarta. Sementara yang tinggal di rumah gadang ini saya bersama ibu. Kira-kira saya ini generasi ke-6 dari keturunan Mohammad Saleh," ceritanya.


Sisi lain dari rumah batu dan rumah gadang Mohammad Saleh
2. Rumah Batu Tinggi.



Usai makan dan berkeliling melihat seisi rumah (kecuali kamar tidur). Kami pamit kepada pemilik rumah dan meneruskan untuk melihat ke rumah batu tinggi yang berada di sebelah rumah gadang ini. Terlihat pada salah satu pintu bangunan ini tertulis angka 1918 di atas kusennya. Sekiranya ini menunjukan tahun pembuatan rumahnya. Terdapat lima pintu dan lima jendela yang menujukan terdapat lima ruangan pula pada sederet bangunan ini.

Saya tidak bertanya lebih jauh kepada ibu Nini soal bangunan ini. Namun, menurut informasi Ibu Wati dulunya digunakan sebagai kamar-kamar untuk isitirahat. Jika saya lihat dan mencoba masuk pada salah satu ruangannya, bisa jadi digunakan untuk gudang menyimpan barang dagangan  Mohammad Saleh.

Arsitektur rumah ini kental dengan gaya kolonialnya dengan tiang teras yang berdiameter besar, pintu dan jendela yang ukurannya tinggi. Ada ukiran pada dinding teras banguanan ini dan atapnya terbuat dari seng. Kondisinya memang tidak digunakan untuk tempat tinggal.

3. Pertokoan di Pasar Pariaman



Terdapat juga komplek pertokoaan yang dimiliki oleh Mohammad Saleh yang berada di Jalan St. Syahrir dan Jalan Bagindo Aziz Chan Kawasan Kampung Perak, Kecamatan Pariaman Tengah. Seperti yang telah diceritakan di atas, Mohammad Saleh ini pedagang yang memiliki banyak tanah dan usahanya. Wajar kala itu termasuk pengusaha yang sukses di Ranah Minang ini. 

"Rute jalan dari Ketaping ke Pariaman ini, awal mulanya dirintis oleh Mohammad Saleh, Secara bertahap ia membuka jalan itu dan bisa kita nikmati hingga saat ini," begitu penjelasan Ibu Nini.

Bagian pertokoan kesatu dan kedua
Jika dibagi berdasarkan bentuknya ada empat bagian dari pertokoan Mohammad Saleh. Pertama bangunan yang berhadapan di depan rumah gadangnya yang tampak mukanya langsung ke depan Jalan St. Syahrir. Memiliki bentuk shophouse kolaborasi desain Minangkabau dan Tiongkok. Dindingnya terdapat ukiran tulisan Arab. Bangunan ini terlihat sekali kesan klasiknya.

Kedua bangunan sebelahan shophouse yang memiliki tiga atap bergonjong berwarna merah dengan dinding di tengahnya ada ukiran tulisan Arab. Posisinya berada di persimpangan jalan. Ketiga bangunan yang pada bagian fasad-nya sangat fotogenik sekali, tapi sayangnya tempat ini selalu ramai. Kan pertokoan. Berada di Jalan Bagindo Aziz Chan. 

Bagian pertokoan ketiga

Bagian tampak mukanya terdapat enam bagian dengan tiga lengkung masing-masingnya. Terdapat ukiran pada tiap atas kolom tiangnya dan ornamen garis melengkung. Ada ukiran tulisan Arab tiap dinding pada tiangnya. Dari prasasti yang tertulis 1918 yang kemungkinan dibuat bersama dengan rumah batu tiang tinggi. 

Bangunan satu hingga tiga berada satu kawasan. Namun, untuk bangunan keempatnya berada di samping kanan rumah gadang yang terdapat bangunan bertembok batu bata menghadapan dengan jalan St Syahrir. Bagian muka bawahnya kemungkinan telah terjadi perbuahan, tapi bagian di atasnya memiliki bentuk yang artisitik dengan selalu ada ornamen pada dindingnya berupa ukiran tulisan Arab.

Bagian pertokoan keempat
Berkunjung ke peninggalan Mohammad Saleh ini memberikan pengalaman dan cerita yang menarik untuk ditulis, saudagar termahsyur yang kiprahnya tidak saja di Kota Pariaman, tapi sudah melalang buana ke berbagai bandar di kawasan pulau Sumatra.  

Mohammad Saleh tokoh yang luput dari perbincangan dikalangan anak muda Minangkabau saat ini. Kegigihan, tekun dan memiliki visi serta cita-cita yang tinggi, telah mengantarkannya pada pencapaian yang luar biasa hebat di zaman itu. Sebagai generasi muda Minangkabau, dapat memetik hikmah dari kisah hidupnya. Tidak ada salahnya, bila berlibur ke Kota Pariaman singgah ke Rumah Gadang Mohammad Saleh. Belajar sejarah dan kegigihan berdagang, sejatinya mengaliri ditiap anak-anak Minangkabau.

Referensi:
1. Suryadi. "Moehammad Saleh Datoek Orang Kaja Besar: Saudagar Besar Pariaman". Harian Singgalang, Minggu, 13 Maret 2011. 
2. Tskuyoshi Kato (1986). “Rantau Pariaman: Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX” dalam buku Akira Nagazumi (editor) Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang: Perubahan sosial-Ekonomi Abad XIX dan XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 
3. Wiztian Yoetri. “Refleksi HUT ke-15 Kota Pariaman”. Harian Padang Ekspres. Artikel Internet diakses oktober 2017.
——————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

2 comments:

  1. Terima kasih sudah berbagi. Ini pertama kali saya membaca tentang Muhammad Saleh, bekas orang kaya di Pariaman. Ikut senang bahwa peninggalannya masih terpelihara sampai sekarang. Semoga tetap begitu dan jadi objek sejarah seperti halnya rumah kelahiran Bung Hatta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih uni udah berkunjung ke rumah kami. Ia Uni, meski belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat setidaknya rumah ini sudah terjaga dan masih ditinggali oleh keturunannya. Mengingat rumah ini merupakan cagar budaya dan memiliki nilai historis yang tinggi di Kota Pariaman.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...