Wednesday, April 18, 2018

Istano Tuanku Rajo Bagindo Balun, Satu dari Empat Istana yang Dimiliki Solok Selatan


Banyak yang tidak menyetahui bila Kabupaten Solok Selatan memiliki sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Kerajaan ini dipimpin oleh 4 raja sekaligus dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Salah satunya Raja Tuanku Rajo Bagindo.

Raja ini berasal dari Suku Kapai 24 yang berfungsi sebagai Rajo Adat dan mempunyai kebesaran Kain Langko Puriang. Raja ini berwenang dalam menangani urusan adat (adat jo limbago), ekonomi, dan menguasai Tambo Alam.



Raja ini juga memiliki satu istana yang berada ditepi jalan dan dekat perbatasan kabupaten. Tepatnya di jalan Raya Muara Labuh, Nagari Pakan Rabaa Tengah, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Kabupaten Solok Selatan. Sekitar 46 Km dari Padang Aro, ibu kota kabupaten atau sekitar 4-5 jam perjalanan dari Kota Padang.

Istana tersebut bernama Istano Rajo Daulat yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo Raja Adat Alam Surambi Sungai Pagu atau disingkatnya dengan Istana Tuanku Rajo Bagindo. Meskipun disebut istana raja, tapi bentuk bangunannya merupakan rumah adat tradisional Minangkabau.

Baca: Kampung Adat Saribu Rumah Gadang Solok Selatan


Istana ini berupa rumah gadang dengan 8 atap gonjong. Memiliki 2 anjungan, pada sisi kiri sebagai tempat duduk raja dan sisi kanan untuk tempat duduk permaisuri. Dindingnya yang penuh dengan ukiran yang didominasi warna merah, hijau dan kuning. Ada 5 jendela di istana ini sebagai perlambang Rukun Islam. Kemudian, istana ini dibangun dengan 24 tiang utama yang melambangkan 24 penghulu.

Diperkirkan sudah berusia lebih dari 600 tahun. Saat ini sudah ditetapkan sebagai bangunana cagar budaya dengan nomor inventaris 04/BCB-TB/A/16/2007. Sekeliling istana ini memiliki halaman yang asri dengan berbagai tanaman perdu yang warna-warni. Begitu juga pohon pelindung lainnya. Di depannya, pintu masuk terdapat kolam yang ada patung burungnya.


Menurut cerita Putri Ros Dewi Balun, putri dari generasi ke-16 Raja Tuanku Rajo Bagindo, istana ini dijaga secara turun temurun oleh keluarga besar raja. Pada zaman Belanda, istana ini sempat dibakar. Namun, ajaibnya tidak hancur menjadi abu dan tetap bentuknya seperti semula. 

Padahal bangunan istana ini terbuat dari kayu yang mudah dilalap si jago merah. Bekas terbakarnya dapat dilihat di tiang bangunannya. Kabarnya rumah ini dijaga oleh makhluk halus yang berwujud harimau dan ular yang berasal dari bukit di belakang istana ini

Ternyata, sebabnya dibakar istana ini karena pemerintah Kolonial Hindia Belanda menganggap tempat ini menjadi basis tentara RI dibawah pimpinan Mr Syafrudin Prawiranegara. Peristiwa ini terjadi tahun Pada 1939. Dulunya, istana ini memiliki beberapa rangkiang yang letaknya di depan bangunan, tapi ketika zaman penjajahan Jepang sengaja dibakar dan sekarang sudah tidak ada lagi.

Baca: Objek Wisata Kabupaten Solok Selatan


Istana ini layaknya museum yang di dalamnya banyak menyimpan berbagai macam koleksi barang dan penginggalan bersejarah lainnya. Terpenting, terdapat naskah kuno dari penginggalan Rajo Balun yang asli dan masih terjaga dipamerkan dalam lemari kaca. Ditulis dengan huruf arab gundul. 

Isi dari naskah Rajo Balun ini mengenai hubungan Pagaruyung dengan Rantau (Sultan Nan Satapan pada abad ke 15 dan 16), Hubungan Pagaruyung Banua Ruhum (Romawi Timur dan Cina, abad ke 14), dan Struktur Alam Surambi Sungai Pagu.

Memasuki istana akan masuk ke serambi bagian luar yang kemungkinan dulunya untuk menerima tamu. Kemudian ketika masuk ke dalam istana akan langsung sampai ke ruang tengah. Terlihat 3 meja panjang yang disusun berleret beralaskan kain putih diatasnya. Tempat ini digunakan untuk bermusyawarah para pemangku adat setempat.


Di sekeliling dindingnya ada foto-foto keluarga raja dari generasi ke generasi. Di anjungannya terdapat juga terpajang keramik-kerampik, perlalatan makan minum, perhisan puti, pakaian raja dan puti hingga ada senjata tombak dan keris.

Hingga saat ini, Istano Rajo Balum masih terawat dengan baik, meski belum ada bantuan dari pemerintah terkait untuk operasional perawatannya. Padahal bila istana ini merupakan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi, tidak hanya bagi Kabupaten Solok Selatan, tapi juga Ranah Minang.

Istana ini selalu mendapat kunjungan berbagai macam kalangan. Ada pelajar, mahasiswa hingga wisatawan asing yang ingin belajar mengenai sejarah dan adat di Kabupaten Solok Selatan. Nah, jika menjelajahi Kabupaten Solok Selatan, jangan lupa untuk singgah ke Istano Rajo Balun. 
——————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

6 comments:

  1. waah sayang kalo belum didaftarkan sebagai cagar budaya uda. masih otentik dan kondisinya masih bagus sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini udah masuk daftar cagar budaya mas, cuma perhatian dari pemerintah terkait perlu nih soalnya masih dikelola sama keluarga besarnya. Soalnya banyak juga wisatawan yang datang ke solok selatan singgah dan belajar sejarah ke istana ini.

      Istana ini sangat potensial jadi wisata budaya seperti istano basa pagaruyuang di Batusangkar. Mengingat aksesnya mudah, tepi jalan raya.

      Delete
  2. iyaa, sayang bgt pemerintah sepertinya kurang memberi perhatian khusus kepada istana ini.. Padahal nilai sejarahnya sangat tinggi..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia bg, sayang banget. Kalo dijadiin museum kan lebih bagus. Apalagi terakhir kita kesana ada anak SMA yang berkunjung dan belajar sejarah SolSel ini kan sangat berpotensi dan dapat menjadi income bagi Solsel

      Delete
  3. Assalamualaikum Uda Bayu. Ijin dijadikan referensi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum salam, Silahkan saja asalkan dicantumkan sumbernya dan penulisnya

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...